Lebih dari 1.000 warga Kabupaten dan Kota Kediri yang tergabung dalam Serikat Rakyat Kediri Berdaulat (SRKB) mengeluarkan sikap politik. Mereka menuntut perbaikan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan kepada calomenuntut perbaikan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan kepada calon Bupati Kediri yang akan terpilih pada pemilihan kepala daerah 12 Mei nanti.


Sikap politik yang menjadi hasil rekomendasi Rapat Umum III SRKB di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo ini merumuskan sejumlah persoalan pembangunan yang dialami masyarakat.

Di bidang kesehatan, SRKB menuntut adanya penyelesaian krisis air bersih, jaminan kesehatan masyarakat tanpa diskriminasi, serta peningkatan anggaran kesehatan yang masih 15 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Kediri 2010. Di bidang pendidikan mereka menuntut pendidikan murah, peningkatan gaji guru non-PNS, serta peningkatan anggaran pendidikan yang jauh di bawah 20 persen dari nilai APBD.

Sekretaris Jenderal SRKB Munasir Huda menyebut angka tersebut jauh di bawah anggaran pemerintah yang dihabiskan untuk mendirikan monumen Simpang Lima Gumul (SLG). "Ini memprihatinkan sekali," kata Huda dalam penyampaian sikap politiknya, Senin (10/5) dini hari.

Sementara di bidang ekonomi SRKB menuntut kemudahan akses modal bagi pengusaha kecil serta jaminan tempat dan keamanan bagi pedagang kaki lima. Selama ini mereka kerap berseteru dengan Satuan Polisi Pamong Praja meski menghasilkan perputaran uang yang cukup besar di masyarakat selain pasar tradisional.

Menurut Huda sikap politik ini merupakan rumusan dari berbagai elemen masyarakt di Kota dan Kabupaten Kediri yang tergabung dalam keanggotaan SRKB. Mereka berkomitmen untuk mengontrol pembangunan pemerintah daerah tanpa berafiliasi kepada kelompok politik tertentu.

Rencananya hasil rekomendasi yang dibahas selama dua bulan itu akan diberikan kepada Bupati Kediri yang akan terpilih dalam pilkada 12 Mei mendatang. Mereka berharap pemerintah menyadari jika masih banyak persoalan pembangunan yang terjadi di masyarakat dan kerap terabaikan. "Siapapun bupatinya nanti, harus mendengar rekomendasi kami," kata Huda.

Rapat Akbar III yang dihadiri lebih dari 1.000 warga Kota dan Kabupaten Kediri itu juga menyuguhkan orasi politik ala Bung Karno. Selain menumbuhkan nasionalisme, orasi tersebut juga bertujuan mengembalikan cita-cita pembangunan seperti yang diharapkan pendiri bangsa Soekarno. Selain dihadiri sejumlah anggota DPRD Kabupaten Kediri dan Pemerintah Kota Kediri, penyair Celurit Emas dari Madura D Zawawi Imron.(Dari Tempo Interaktif)

Leave a Reply






five − 3 =