Upaya Mendorong Gerakan Rakyat di Kabupaten Jombang khususnya yang dilakukan oleh Perkumpulan Alha-Raka dengan tiga orang penggerak yakni; Abdul Muhaimin yang lebih dikenal dengan panggilan Cak Doel, berkonsentrasi di wilayah Kecamatan Ngoro dan Mojowarno Jombang, Zainul Abidin lebih banyak beraktifitas dengan komunitas perkotaan (pedagang kaki lima, pemuda dan kelompok usaha kecil), dan Zaki Fitri Widodo di Kecamatan Bareng.

Membantu Modal Koperasi Mamkari

Zainul Abidin, salah satu anggota Perkumpulan Alha-Raka yang juga Wakil Ketua Koperasi Mandiri Jombang, mempunyai aktifitas sosial di beberapa desa, terutama di wilayah Jombang kota, diantaranya; Forum PKL Jombang,  Kelompok Tani Eka Sari Desa Kalangsemanding Perak, KSP Mamkari Ngrandu Perak, KSP BK/ Simpanan Jumputan “SIJUM” Ngrandu, Forum Warga Mancar Timur Peterongan, Karang Taruna Dusun Klagen Peterongan, Kelompok Takmir Tanjung Gunung  Pule Peterongan, Kelompok Pemuda KRAMAT Mojosongo Diwek, Kelompok Pemuda KOMPAK Mireng Sumberagung Megaluh, Kelompok Warga Dusun Semanding Perak, dan Kelompok Warga Dusun Kalangan Perak.

Anggota kelompok-kelompok di atas terdiri dari golongan ibu-ibu, bapak-bapak, dan pemuda yang berada di desa-desa. Satu hal yang menyamakan keberadaannya adalah sulitnya untuk mendapatkan fasilitas kesehatan gratis, pendidikan yang murah, kesulitan mengembangkan ekonomi dan bahkan terjerat oleh bank clurut, dan politik. Penggerak mendorong terjadinya kebersamaan dan kekompakan diantara mereka.  Selain itu penggerak memberikan pelayanan bagi kelompok dalam proses untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Salah satu contoh adalah kebutuhan untuk belajar tentang koperasi di Kelompok Mampu Berkarya Sendiri (Mamkari) Ngrandu Perak Jombang, maka penggerak mempertemukan dengan kelompok lain yang mempunyai pengalaman dalam mengelola koperasi. Begitu pula jika sebuah koperasi kelompok membutuhkan tambahan modal untuk simpan-pinjam juga dihubungkan dengan koperasi kelompok yang memiliki modal lebih banyak. Kebersamaan dan kekompakan terwujud dalam pemberian bunga yang sangat ringan dan tidak mencekik. 

Dinamika kelompok Mamkari di tahun 2008 terlihat dalam kegiatan rutin simpan-pinjam. Menurut Sumiatun, ketua Mamkari bahwa selama setahun belajar bersama dengan kelompok-kelompok lain ada beberapa peningkatan pengelolaan administrasi pembukuan koperasi. Ketika berbagai kelompok bertemu dengan latar belakang masalah yang berbeda, masing-masing akan bertukar pengalaman. Mereka saling memberikan masukan bagi kelompok lain yang mempunyai kesulitan atau permasalahan sesuai dengan pengalamannya.

”Sebelumnya, kita tidak berhubungan dengan kelompok, paguyuban atau koperasi lain. Kita hanya berhubungan dengan tetangga yang menjadi anggota arisan. Rasanya, tidak ada teman lain yang kita punya dengan kemampuan pengelolaan koperasi yang lebih baik. Namun, ketika mulai berhubungan dengan kelompok-kelompok lain, kita tidak lagi mengalami kesulitan dalam berteman dan belajar bersama. Bahkan ketika mengalami kekurangan modal, kita mendapat bantuan dari Koperasi Mandiri dan mudah sekali persyaratannya,” terang istri Sutiyar, tokoh masyarakat Ngrandu.

Bantuan permodalan untuk Koperasi Mamkari sudah diterima dua kali yakni pada tahun 2007 dan 2008. Nilainya cukup besar bagi keberlangsungan kelompok koperasi yang anggotanya lebih banyak perempuan ini. Pinjaman modal yang pertama sebesar Rp 3,3 juta dan yang kedua Rp 5 juta. Modal tersebut ditambah dengan iuran anggota dan  dikelola untuk usaha simpan-pinjam yang dirintis dari kelompok arisan.

Mamkari yang awalnya hanya sebuah kelompok arisan dan tabungan yang diinisiasi oleh perempuan sebagai kegiatan rutinan. Mereka melakukan arisan dan tabungan setiap minggunya sebagai rutinitas yang selalu dilakukan kelompok yang beranggotakan 300 orang. Rupanya bentuk kegiatan diatas sering memunculkan masalah-masalah baru. Melalui diskusi yang difasilitasi oleh penggerak muncul gagasan untuk mengembangkan kegiatan tersebut menjadi kelompok simpan-pinjam dan mendapat persetujuan dari anggota yang tersaring menjadi 72 orang. Mereka yakin dengan adanya kegiatan simpan pinjam akan mampu menyelesaikan persoalan secara bersama-sama khususnya masalah keuangan, serta mampu membangun solidaritas ibu-ibu yang umumnya sudah lanjut usia. Hingga tahun demi tahun ternyata perkembangan simpan-pinjam ini lumayan pesat, sehingga tercetus ide untuk merubah sistem simpan pinjam biasa menjadi koperasi.

Satu hal yang menjadi pembelajaran untuk melakukan pengorganisasian kelompok melalui koperasi bahwa semua anggota diajak untuk membuat keputusan bersama. Seperti yang dikatakan oleh Sumiatun selaku ketua KSP Mamkari, “sistem perkoperasian terbukti mampu menyatukan dan mengompakkan anggota melalui kesepakatan yang ditetapkan menjadi sebuah aturan bersama. Pengetahuan tentang koperasi kami dapat dari proses belajar bersama dengan Koperasi Mandiri.”

Leave a Reply






5 + = six