Mendorong Peran Perempuan dalam Masyarakat
Posted in January 2nd, 2009 by admin | Filed under Berita Kita | Comments (1)
(Paguyuban Perempuan Banyuurip Mundusewu Bareng)
Zaki Fitri Widodo, salah satu anggota Perkumpulan Alha-Raka ini selama hampir 7 tahun melakukan aktifitas sosial di wilayah Jombang bagian selatan, diantaranya di Kelompok Gabungan HIPPA Tirta Perkasa Wungurejo, Kelompok Guru Al Hikmah Ngampungan, Paguyuban Pemuda Pemudi Sumberdadi (P3S) Ngampungan, HIPPA Karangan Ngampungan, Paguyuban Pemuda Tanjung Anom Diwek, Forum Warga Jogoroto, Kelompok Kedung Galih Kecamatan Bareng, dan Forum Warga Pucang Rejo.
Kelompok yang menjadi perhatian Zaki pada tahun 2008 ini salah satunya adalah Paguyuban Perempuan Dusun Banyuurip Desa Mundusewu Kecamatan Bareng yang memiliki aktifitas koperasi. Pemikiran tentang perempuan yang hanya sebagai konco wingking dalam masyarakat, menurut Zaki, perlu diperbaiki. Sebab dalam realitas sosialnya perempuan tidak lagi sebagai pelengkap saja. Sebaliknya, mereka berhasil mengelola paguyuban simpan pinjam hingga menjadi ujung tombak dan tulang punggung keluarga. Inilah kehebatan potret pengorganisasian di Paguyuban Perempuan Dusun Banyuurip.
Peran perempuan dalam menopang ekonomi keluarga begitu besar, bahkan ada yang menjadi tulang punggung keluarga. Perjuangan yang mereka alami bukanlah takdir Tuhan semata. Tak lain karena selama ini pemerintah sendiri tidak pernah memperhatikan hak-hak warganya. Khususnya para perempuan yang berdomisili di pedesaan. Mereka jarang mendapatkan pembinaan serta bantuan dari pemerintah, tak jarang posisi perempuan menjadi polemik di tengah masyarakat ketika mereka harus bekerja untuk mempertahankan dapur supaya tetap mengepul. Bekerja serabutan akan dijalaninya, tak peduli harus memeras keringat dan membanting tulang, seperti pada kelas pekerja buruh tani, pedagang sayur dan penjahit. Namun sayang jasa perempuan dihargai jauh lebih rendah dari pada laki-laki, dengan anggapan bahwa kerja laki-laki lebih berat.
Fenomena ini terjadi di seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali Dusun Banyuurip yang mempunyai potensi alam penghasil padi, sayur, palawija maupun buah. Kesuburan hamparan sawah dan ladang yang membentang, membuat sebagian penduduk tetap bertahan untuk bercocok tanam meski upah sangat minim. Menurut penuturan Suyanto, Kepala Dusun Banyuurip “Kalau total keseluruhan kepala keluarga (KK) sebanyak 230, namun yang menetap hanya 186 KK. Wajar kiranya warga ingin mendapatkan penghasilan lebih dengan jalan kerja di luar kota. Sebagian besar kota tujuan adalah Surabaya, ada pula yang keluar jawa. Mereka yang menetap adalah orang-orang yang masih betah dengan penghasilan minim. Padahal saat ini semua biaya hidup naik, sedangkan hasil pertanian yaa begitu-begitu saja, hingga jarang generasi muda yang mengenyam pendidikan tinggi” ungkapnya
Menguatkan Kelompok Perempuan Melalui Koperasi
Meski kondisi penduduk Dusun Banyuurip memiliki pendidikan yang pas-pasan, tidak menghalangi ibu Ngatemi, salah satu perempuan tangguh yang mempunyai tekad kuat untuk membangun Dusun Banyuurip menjadi lebih maju.
Ngatemi, sehari-hari disibukkan oleh pesanan jahitan dari para tetangga, tapi jika orderan sepi, tidak ada pilihan lain baginya selain ikut menjadi buruh tani. Meski kesibukan pribadi tidak pernah berhenti, namun untuk kegiatan sosial kemasyarakatan selalu diutamakan. Di umur yang semakin senja, ibu satu putra ini tidak pernah gentar untuk memberikan motivasi kepada paguyuban ibu-ibu simpan pinjam. Baginya berkumpul dan menyelesaikan persoalan perekonomian melalui simpan pinjam, adalah salah satu upaya alternatif untuk saling menolong tetangga yang membutuhkan. “Saya merasa tidak tega melihat ibu-ibu yang selalu kebingungan ketika akan meminjam, dan bisa ditebak larinya jelas kepada para renternir hingga dalam jangka tahunan baru bisa ditutup. Kami kemudian menawarkan kepada ibu-ibu untuk membuat perkumpulan, namun selalu ditolak karena ada ketakutan tidak akan mampu bertahan lama. Ide ini kemudian saya sampaikan kepada Kasun, bertepatan saat itu ada program SPP (Simpan Pinjam Perempuan). Beberapa perempuan siap untuk membuat rekayasa perkumpulan, yang penting program kecamatan tersebut bisa turun di Banyuurip,” jelas Ibu Ngatemi, selaku Bendahara Paguyuban.
Untuk meyakinkan para ibu-ibu, ibu Ngatemi dibantu ibu Kasun Alfiah, ibu Titik, dan ibu Maimunah mengunjungi dari rumah ke rumah untuk menawarkan berdirinya paguyuban simpan pinjam. Sebagian besar ibu-ibu pesimis, namun sebanyak 100 orang mempunyai andil menanamkan simpanan pokok sebesar Rp 5 ribu. “Tawaran ikut selalu dijawab ibu ibu 'yaa tak pikir dulu', dalam batin mereka selalu pesimis karena takut paling-paling tidak jadi nantinya. Namun setelah ada modal Rp 500 ribu, kepercayaan anggota mulai tumbuh. Pengurus kembali merapatkan barisan guna mendapatkan bantuan modal dari masyarakat yang dikumpulkan melalui RT senilai Rp 200 ribu dengan model pembayaran Rp 20 ribu setiap angsuran sebanyak kali 10,” katanya
Untuk memotivasi semangat para anggota maka ada kesepakatan bunga pinjaman sebesar 5%. Ini dilakukan sejak pertama kali terbentuk sejak tanggal 11 Agustus 2003. Dari modal awal Rp 500 ribu yang dipinjamkan secara rata Rp 50 ribu, beberapa bulan kemudian modal bertambah hingga masing-masing anggota bisa meminjam Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu. “Saya sering memberikan perumpamaan kepada para anggota yang kadang kurang percaya dengan pengurus. Dalam bahasa kami modal pembayaran awal biasa kami sebut dengan andil, jadi siapa saja yang sudah menanamkan modal Rp 5 ribu anggaplah uang tersebut tetap ada namun jangan dipikirkan. Seperti orang buang air, tentunya ketika sudah keluar dari kamar mandi tidak pernah dipikirkan lagi. Begitu pula dengan modal awal, baru bisa dibagi setelah 5 tahun dan masing-masing anggota mendapatkan uang yang sama yakni Rp 50 ribu,” terang Bu Ngatemi
Dari motivasi dan hasil pembagian tersebut semangat dan kepercayaan anggota kian bertambah. Mereka beranggapan bahwa hasil dan pengembangannya akan sangat membantu dikemudian hari dan kembali pula untuk anggota. Kini tahun 2008 perputaran modal yang dikelola kelompok ini sudah mencapai Rp 15 juta. “5 tahun berdiri, bukan jaminan tidak ada persoalan. Bisa dikatakan setiap perjuangan pastilah ada batu dan kerikil yang menghalangi, meski riak-riak tersebut cukup kecil dan mampu diselesaikan. Kami selaku pengurus harus menjaga komitmen dan komunikasi secara kontinu agar terhindar dari kesalahfahaman. Maka ada konsekuensi setiap tanggal 15 para anggota melakukan aktifitas simpan pinjam. Jika sampai hari yang ditetapkan anggota yang mempunyai tanggungan belum hadir, maka pengurus harus menjemput langsung ke rumahnya,” ungkapnya. (Rini Mustofa, Diana Kholidah).




February 8, 2012 at 2:47 pm
baca jyludnua, gak menarik.untung baca isinya. hahaha…kalo ortu, bisa dimaklumi. kalo pacar???? gak kuattttttt