Membangun Kesehatan Harus Dimulai Dari Desa
Posted in May 12th, 2008 by admin | Filed under Berita Kita | Comments (0)Kesehatan adalah investasi bagi setiap individu untuk mendukung kualitas sumber daya manusia yang sehat, sehingga pemerintah berkewajiban memfasilitasi upaya masyarakat agar sehat. Keinginan inilah yang mendorong warga Dusun Kedunggalih Desa Bareng Jombang untuk melakukan upaya peningkatan kesehatan yang selama ini masih tidak layak.
Minimnya pengetahuan tentang kesehatan bagi masyarakat desa, merupakan pemandangan yang biasa. Namun perlu diketahui, pembangunan bangsa tidak akan pernah berhasil ketika rakyatnya hidup sakit. Pantas kiranya jika pada UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Untuk mewujudkan paradigma sehat tersebut, diharapkan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini sudah faham betul tentang arti sehat yang sesungguhnya. Agar masyarakat mampu hidup mandiri, sehat, dan dinamis.
Namun perkiraan tersebut masih jauh dari realitas terutama bagi masyarakat Dusun Kedunggalih, menurut data tim lokal yang terbentuk usai acara KRJB pada akhir bulan Januari 2008 lalu, terdapat beberapa persoalan tentang kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah Jombang, khususnya kesehatan para lansia dan ibu hamil. Sebagian besar persoalan yang terdata adalah mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. “Sebagian besar cerita pada kondisi gawat terjadi malam hari, dalam situasi bingung tersebut seperti biasa rujukan dalam memutuskan persoalan pasti ke dukun karena jauh dari Puskesmas desa. Padahal seorang ibu membutuhkan pertolongan medis secepatnya karena kondisi bayi yang berada dikandungan mengalami kelainan (sungsang), dan anehnya malah dibawa ke dukun yang hanya mengandalkan do'a, bukan ke bidan yang terlatih,“ terang Su'udi, salah satu tokoh masyarakat.
Terobsesi dari kenyataan beberapa perempuan yang melahirkan malam hari dan rasa tidak tega melihat perempuan yang kesakitan namun masih harus digotong kesana-kemari yang ujung-ujungnya pasti ke dukun inilah, membuat Su'udi bersama-sama masyarakat menuntut kepada Dinas Kesehatan Jombang untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan penduduk Kedunggalih. Memang terbengkalainya pelayanan kesehatan terjadi akibat beberapa faktor, diantaranya kondisi geografis dusun tempat tinggal yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih rendah, semakin memperlebar persoalan. Tetapi hambatan diatas bukanlah penghalang karena pemerintah harus memenuhi kesehatan, mulai dari prasarana sampai tenaga medisnya. Karena mayoritas penduduknya adalah buruh tani, yang kebanyakan mereka selalu tersibukkan oleh persoalan mencari makan. Hingga persoalan pendidikan maupun kesehatan sering terabaikan.
Beberapa data yang berhasil dikumpulkan oleh tim lokal antara lain : Riwayat ibu Susiati (32 th) yang kehilangan buah hatinya. Tahun 2004 lalu, rencana mau menimang buah hati ternyata gagal. Akibat lambatnya penanganan bidan ketika dipanggil ke rumah ternyata tidak membawa peralatan medis lengkap sedang keadaan kaki bayi sudah keluar bersama ari-ari. Saat itu juga bu bidan menyarankan untuk di rujuk ke RS Mojowarno karena kurang pengalaman dan menyarankan bu Susiati untuk merapatkan kakinya. Setiba di RS, bayi sudah meninggal.
Riwayat ibu Siti Aminah (36 th) tahun 2006 yang mempunyai anak bernama Sofa umur 3 tahun. Keluarganya termasuk warga tak mampu maka di bawa ke RSUD, akan tetapi tidak mendapat perawatan layak. Kemudian di bawa ke RS Mojowarno, hanya dirawat satu hari dan dibawa pulang karena tak mampu membayar biaya pengobatan. Kemudian dibawa pulang hanya dirawat tradisional (pijat). Setelah mendengar informasi dari tetangga RSUD Sidoarjo mau menerima ASKES, maka sang ayah memeriksakan Sofa ternyata di deteksi mengidap penyakit Wilms Tumor. Kemudian di rujuk ke RSU Dr Soetomo Surabaya. Lagi-lagi tidak mendapat perawatan layak selama dua bulan hanya tes darah, tanpa ada tindak lanjut. Akibatnya keluarga memutuskan untuk dibawa pulang lagi, karena persediaan uang sudah habis. 3 hari di rumah Sofa meninggal Dunia.
Riwayat ibu Hartining melahirkan anak yang diberi nama Rokhim namun meninggal dunia. Awal kehamilan memang hanya diperiksa dukun, namun bulan ke 4-7 sudah diperiksa bidan dan mendapat suntikan dua kali perbulan. Namun sebelum melahirkan ibu Hartining jatuh, diperparah dengan kondisi sakit maag yang menyebabkan dia sulit makan dan minum. Saat mau melahirkan kondisi malam hari yakni pukul 22.00 WIB. Lagi-lagi bidan Desa ogah datang dengan alasan kondisi bayi tidak sehat. Keluarga lantas mencari bidan lain, namun terlambat pada saat bidan datang bayi sudah keluar dengan kondisi kaki terlebih dahulu, hingga meninggal dunia.
Masih banyak cerita ibu-ibu hamil yang mengalami masa-masa sulit, akibat minimnya fasilitas dan pengetahuan tentang kesehatan. Dan saat ini data lansia berkisar 27 orang dan balita sebanyak 34. dan diantara balita tersebut ada beberapa yang teridentifikasi mengalami gizi buruk.
Kedunggalih Bentuk Tim Kesehatan Lokal
Proses RTL (rencana tindak lanjut) tim lokal dari hasil pendataan tersebut kemudian di sharingkan pada bulan Februari 2008. Sesuai dengan hasil kesepakatan bahwa, pertemuan yang telah digagas oleh KRJB pada bulan Januari lalu harus terus ditindak lanjuti agar pihak pemerintah memberikan perhatian secara langsung. "Semangat kami selaku tim lokal tidak akan pernah surut, meski kami tidak tahu hasilnya. Namun upaya yang kami lakukan bersama KRJB tentunya tidak akan sia-sia dan kami berharap minimal membuahkan hasil yakni adanya perhatian yang lebih kepada masyarakat Kedunggalih ketika berobat. Baik di Puskesmas ataupun ketika mengajukan permohonan penyuluhan tentang segala informasi yang berkenaan dengan kesehatan,“ harap Su'udi selaku koordinator tim lokal.
Upaya koordinasi dengan pihak Pemerintahan Desa (Pemdes) beserta jajarannya secepatnya akan dijelaskan latar belakang munculnya gerakan pemuda Kedunggalih oleh tim lokal dengan menemui kepala desa (Kades) dan juga kepala dusun (Kasun). Meski dalam hal ini Kasun juga telah mengetahui, namun tetap akan dilakukan secara formal agar kinerja tim lokal dinilai tidak terkesan asal-asalan. "Untuk rencana keluar saya akan bekerjasama dengan semua kelompok, baik KRJB maupun di luar KRJB. selanjutnya Kades Kasiyanto akan segera diberi tahu mengenai pokok permasalahan,“ tambah Su'udi.
Target kelompok Kedunggalih dengan adanya desa siaga di Desa Bareng agar bisa diprioritaskan untuk Kedunggalih. Melihat lokasi dusun yang cukup terpencil serta medan yang cukup rumit, diharapkan kriteria dusun ini juga dinilai agar pembangunan kesehatan merata sampai kepelosok dusun.
Adapun persiapan yang akan dilakukan Su'udi yang kebetulan juga anggota koperasi di dusunnya, adalah menyiapkan iuran dari masyarakat untuk menghimpun dana sehat. Artinya proses penarikan iuran tersebut akan lebih mudah jika dikelola oleh koperasi karena aksesnya akan lebih mudah. “Melihat pengelolaan koperasi lebih teratur, yakni mudah teridentisfikasi pencatatannya. Seperti pada kegiatan satu tahun lalu ada tarikan sukarela sebanyak 140 KK, tiap bulan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu masuk masuk ke kas yayasan yang dialokasikan untuk dana pendidikan dan administrasi yayasan. Jika memungkinkan ke depan juga bisa dialokasikan untuk dana kesehatan, masing-masing akan diprosentasikan namun tetap berdasar pada keputusan bersama,“ tutur Mbah Ud, sapaan akrabnya.
Sementara itu, menurut Tompo selaku kepala Dusun Kedunggalih, ia juga mendukung upaya dari generasi muda yang peduli terhadap kesehatan. Namun keterlibatannya masih sebatas mengetahui belum banyak berperan dalam upaya pengentasan persoalan tersebut. Hal ini diakuinya karena banyaknya tugas yang harus dilakukan dalam tiap harinya, baik kesibukan sebagai petani maupun pendidik. "Dusun kami memang lokasinya sangat terpencil, hingga banyak bidan yang ogah berdomisili di dusun kami ketika tugas. Seperti halnya dusun lain pada umumnya, kami juga memperoleh jatah pelayanan dari Posyandu satu bulan sekali. Sayangnya masyarakat belum faham benar hingga belum maksimal dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut. Hingga saya tidak yakin kalau adanya program dari pemerintah untuk membuat rakyat sehat tahun 2010, saya masih pesimis,“ katanya
Tanggapan Pihak Pemerintahan
Untuk memperlancar koordinasi tim lokal dengan pihak pemerintah, ada kesepakatan yang telah dirumuskan usai pertemuan di Aula Madrasah Diniyah Asy-Syukur Dusun Kedunggalih dengan perwakilan Dinas Kesehatan yakni dr. Arif beserta wakil ketua Puskesmas Bareng, dr. Asnan. Kesepakatan tersebut antara lain KRJB selaku wadah perjuangan kelompok secara ad hoc memberikan rekomendasi khusus yakni salah satu anggotanya yang bersedia menghubungkan dengan dinas, dalam hal ini adalah perkumpulan Alha-raka, yang kemudian dimandatkan kepada Zaki Fitri Widodo untuk menindaklanjutinya lebih dalam.
Pada bulan April tepatnya tanggal 16 April 2008, tim KRJB kembali mempertanyakan kepada dr. Arif tentang follow up dengan pihak-pihak terkait. "Karena kami sempat diundang berdialog langsung dengan masyarakat Dusun Kedunggalih Desa Bareng, setelah itu kami diskusikan dengan pihak wilayah kecamatan dalam hal ini adalah Dr. Gigih. Kami kebetulan ada program Desa Siaga, sehingga kami sepakat untuk menindak lanjutinya dengan program tersebut. Selanjutnya Dinkes tidak ada wewenang untuk mengatur hal tersebut. Karena Kedunggalih adalah wilayah dusun yang menjadi bagian dari Desa Bareng, maka keputusan selanjutnya akan diambil oleh desa melalui musyawarah desa,“ terang dr. Arif.
Menurutnya keterlibatan Dinkes hanya pada sisi persiapan program Desa Siaga, selanjutnya kewenangan akan sepenuhnya diserahkan kepada pihak kecamatan dan desa. Karena pada dasarnya persiapan desa menuju sehat harus memiliki kader yang profesional yang dicetak mampu menangani berbagai penyakit, utamanya dalam pencegahan dan manajemen kesehatan di desa tempat dirinya berdomisili. Dari sinilah muncul program baru yakni pelatihan para bidan untuk mendampingi kerja-kerja kader. Arif melanjutkan, meski usulan pelatihan kebidanan telah digagas pada mulai tahun 2006 yang lalu, namun baru terlaksana pada pertengahan tahun 2007 dan tahun 2008 mulai tanggal 14 April sampai awal Mei 2008 di gedung PSBR Jombang. “Tujuan dari pada pelatihan tersebut adalah untuk membekali para bidan baru yang akan ditugaskan untuk melatih kader-kader desa. Dan khusus untuk Desa Bareng kami telah merekomendasi panitia bahwa ada bidan dari Bareng yang turut dilatih dan hal ini telah disepakati oleh panitia,” kata dr. Arif yang saat ini juga menjabat sebagai kepala bagian ketenagakerjaan Dinas Kesehatan Jombang.
Untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan yang sama tiap musim, salah satu solusinya adalah meningkatkan SDM masyarakat melalui fasilitasi bidan dan kader untuk mengembalikan fungsi dan tugasnya masing-masing. Sementara hasil konfirmasi dengan dr. Arif, berikutnya dari tim KRJB bersama media Sipil melacak koordinator Puskesmas Bareng yakni dr. Gigih Setijawan selaku kepala kewilayahan, menilai secara umum bahwa sejauh ini kondisi Dusun Kedunggalih memang relatif baik dari segi pelayanan posyandu dan lansia. Didukung pola hidup masyarakatnya yang sebagian besar jarang keluar dari dusun, hingga relatif aman dari penularan penyakit. Berbeda dengan kondisi masyarakat kota yang hidupnya lebih dinamis, yakni berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah yang lain. Mempunyai kecenderungan hidupnya rentan dengan penyakit. “Artinya masyarakat dusun Kedunggalih meski minim pengetahuan tentang kesehatan, namun kondisi hidupnya dan kesehatannya lebih terjamin dari pada orang-orang yang kota yang sering berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya.
Namun bukan berarti kesehatan di desa tidak diprioritaskan, hingga perhatian pemerintah lebih terfokus pada masyarakat perkotaan. Terlebih ada benturan aturan dari pemerintah tentang pengadaan Polindes hanya bisa diakses dalam satu desa disediakan satu unit. Jika tetap ada usulan maka akan sangat sulit karena tabrakan aturan dari pemerintah. ”Ada beberapa alternatif solusi yang dapat saya berikan yakni melalui puskesmas keliling, melalui penyuluhan melalui program desa siaga, dan dana kesehatan,” ungkapnya. Setidaknya dengan program desa siaga, muncul cita-cita peningkatan layanan penanganan masalah kesehatan dan gizi pada bayi dan anak. dr. Gigih melanjutkan, pihaknya telah mengajukan pelatihan kepada 17 bidan yang bertugas di Puskesmas Bareng. Guna peningkatan skill para bidan Puskesmas karena sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang akan menjalankan fungsi penyuluhan (promotif), pencegahan (preventif) dan pengobatan (kuratif) bagi semua kalangan masyarakat, termasuk bayi dan anak.
Namun demikian, tidak semua bidan baru memiliki pengetahuan mendalam tentang penanganan kesehatan pada bayi dan anak. Untuk itu perlu adanya pemberian pelatihan tentang penanganan masalah kesehatan dan gizi pada bayi dan anak kepada bidan umum. Ia melanjutkan, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidan umum tentang penanganan masalah kesehatan anak dan meminimalkan dampak akibat minimnya jumlah dokter anak. “Namun jika hanya pelatihan bidan saja saya tidak bisa menjamin bidan tersebut lantas mahir, untuk itu harus dikawal terus dengan mengadakan pelatihan secara khusus saya akan mendatangkan tutor kembali pada tanggal 17 Mei 2008. Setelah itu program selanjutnya bidan-bidan yang telah dilatih akan dibawa ke Pasuruan guna melihat proses pelayanan puskesmas yang sudah maju tersebut sebagai percontohan,” tambahnya.
Upaya tersebut sesuai dengan visi dan misi Puskesmas yakni untuk menciptakan masyarakat sehat maka perlu adanya pelayanan prima dan juga peningkatan kualitas baik SDM maupun pelayanan. “Untuk itu masyarakat Kedunggalih bisa mengajukan langsung jika menginginkan semua informasi yang dibutuhkan dengan cara mengajukan daftar jadwal sekaligus tema yang akan dibicarakan. Jika masyarakat mau proaktif, tentunya persoalan kesehatan akan lebih mudah,“ jelasnya. Menanggapi upaya dari warga Kedungalih, secara terbuka pihak Puskesmas akan memberikan pelayanan terbuka baik kritikan, saran yang bisa diakses melalui via SMS, telepon maupun datang langsung. Ini berlaku juga untuk umum dan dari metode tersebut pihaknya akan lebih tahu kinerja para anggotanya yang serius dan tidak.
Untuk penguatan kelompok Kedunggalih yang Peduli Kesehatan, Puskesmas siap untuk melakukan pembinaan dan pengembangan. Tawaran dari dr Gigih ini pernah direalisasikan pada kelompok Aisiyah Muhammadiyah dengan melalui dana sehat yang secara mandiri bisa diprogramkan kelompok. “Biasanya mereka melakukan iuran tiap bulan, dan ketika ada anggotanya yang sakit pembiayaan 80 persen dibebankan kepada kelompok, sedangkan yang dibebankan pada masing-masing anggota 20 persen. Sistem ini bisa digunakan semua kelompok di kabupaten Jombang,“ saran dr. Gigih. Tapi yang perlu dikritisi adalah tidak adanya tempat yang dituju ketika masyarakat Kedunggalih untuk berobat, bukan bagaimana cara mereka menutupi pembayaran karena bisa hutang ke tetangga atau saudara. (Diana K, Zaki F.W)



