Active Image

KRJB (Konsorsium Rakyat Jombang Berdaulat) periode 2008-2010 mempunyai 3 program kerja utama, yakni pengembangan dan penguatan Koperasi, Pendidikan kader penggerak, serta upaya melakukan perubahan kebijakan (bersifat responsif). Ketiga program tersebut akan terlaksana, ketika pemenuhan data administrasi kelompok rampung dilakukan. Berikut pendataan tahap awal yang telah berhasil dikumpulkan oleh TIM.

Berdasarkan hasil rapat pengurus KRJB tanggal 20 Juni 2008 di sekretariat KRJB Jombang, memutuskan memberikan mandat kepada Koordinator Kecamatan (Korcam) untuk melakukan pendataan kelompok-kelompok anggota KRJB di masing-masing wilayahnya. Meski demikian, tanggung jawab sukses tidaknya pendataan sepenuhnya tetap berada di tangan pengurus. Untuk mendukung kelancaran selama proses pendataan maka akan dibantu oleh komite pelayanan. Adapun tujuan Pemenuhan data salah satunya untuk memudahkan pengurus dalam mengidentifikasi kebutuhan kelompok, yang mana antara organisasi satu dengan yang lainnya mempunyai latar belakang yang berbeda. Menurut Gus Ud, panggilan akrab ketua KRJB Su'udi Anis, bahwa kebutuhan organisasi yang pertama adalah pemenuhan administrasi. Ketika proses pendataan masih belum terlaksana secara maksimal tentunya akan mempengaruhi program kerja selanjutnya.

Menurut data ketika kongres, anggota yang tergabung dalam KRJB sebanyak 47 kelompok yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari data inilah pendataan akan dikelompokkan berdasarkan kecamatan, yang kemudian akan dikelompokkan lagi sesuai kebutuhan masing-masing anggota. Data saat ini, pada akhir bulan Oktober  yang telah masuk pada Sekjen KRJB sebanyak 34 kelompok. Adapun penyebab terhambatnya pendataan kelompok yang dilakukan oleh masing-masing Korcam, diantaranya terbentur oleh agenda Pilkada Jombang pada bulan Juli, padatnya agenda kegiatan dimasing-masing kelompok pada bulan Agustus, dan September dalam rangka memperingati HUT RI ke 63 dan bulan Ramadhan yang lalu. Meski sempat melakukan koordinasi di bulan puasa pada tanggal 20 September di aula perkumpulan Alha-Raka dan telah merekomendasikan kepada masing-masing Korcam untuk segera mengembalikan form pendataan pada pertengahan bulan Oktober.

Kenyataannya dalam pertemuan halal bihalal yang dilakukan di aula ICDHRE Jombang  pada tanggal 17 Oktober 2008, data yang terkumpul hanya 9 kelompok yang sebagian besar dari kelompok Jombang Selatan. ”Sudah tiga bulan lebih program pendataan awal terhambat oleh beberapa agenda besar, yang mau tidak mau menyita waktu dan mengakibatkan molornya pendataan kelompok. Namun ini tidak menghambat proses kerja pengurus lainnya mengunjungi beberapa kelompok secara langsung guna memperkenalkan pengurus baru kepada anggota lainnya. Disamping itu saya juga mengakui bahwa komunikasi antar pengurus dengan komite pelayanan serta Korcam sangat minim” tambah Gus Ud. 

Seyogyanya, kerjasama antar pengurus tersebut harus dimaksimalkan. Agar kelompok yang bergabung dalam KRJB tidak menuai kekecewaan dengan harapan masing-masing kelompok menjadi lebih baik. Namun perlu diketahui oleh semua kelompok bahwa tugas dari pada pengurus KRJB, hanya sekedar memfasilitasi kebutuhan anggota sesuai dengan kesepakatan yang disusun ketika rapat kerja. 

Sementara ragam kelompok yang tergabung dalam KRJB, mempunyai ragam dan bentuk persoalan. Seperti kelompok petani, Rakom, PKL, dan Karangtaruna. Terkait soal-soal seperti itu, dijelaskan langsung oleh Muslimin Abdilla, pengawas KRJB, bahwa fungsi KRJB bisa menjembatani. Artinya tidak harus pengurus KRJB yang datang lalu memfasilitasi, tapi KRJB memberi mandat salah satu kelompok yang dianggap mampu untuk berbagi pengalaman secara langsung kepada kelompok lain yang membutuhkan. “Pengembangan model seperti ini akan memberi nilai positif disamping saling mengenal, hal ini bisa didorong adanya munculnya ide bersama yang lebih kuat disamping melalui pertemuan bulanan,” katanya.

Masih menurut Muslimin, gerakan KRJB harus mampu mewarnai perjuangan rakyat disemua sektor. Meski visi dan misi KRJB tidak berpolitik praktis, namun ketika ada salah seorang dari anggota KRJB yang mendaftarkan diri pada Pemilihan Legislatif (Pilleg) maka tidak ada salahnya jika semua anggota juga turut mendukung secara individu.

Hal senada diungkap oleh Syamsul Rizal, dinamisasi kelompok akan terus didukung oleh KRJB. Baik kelompok yang melakukan gerakan budaya, ekonomi maupun perpolitikan. “Pada prinsipnya KRJB tidak mempunyai strategi pemenangan, karena KRJB bukan partai politik. Namun ketika ada potensi dari salah satu anggota yang mampu, maka masing-masing individu mempertegas sikap akan mendukung sepenuhnya,” terang Rizal.

Penguatan dan Pengembangan Kelompok Koperasi

Beberapa kelompok koperasi yang telah bergabung dengan KRJB, saat ini telah berjumlah 13 antara lain; Koperasi Mamkari Ngrandu Perak, Kelompok Anggrek  Sambong Duran, Koperasi Cipta Mulya paguyuban PKL Peterongan, Wika Katemas Kudu, WKK Grogol Diwek Jombang, Koperasi Cakra Sengon, Koperasi Mandiri Perkumpulan Alha-raka Jombang, Koperasi LEPPAS Kalibening Tanggalrejo Mojoagung, Koperasi Dektrit 17, Koperasi Bina Swadaya ICDHRE, Koperasi Sumber Galih Kedunggalih Bareng, Koperasi Amanah Mayangan, 

Dari perolehan data sementara tersebut, tidak menutup kemungkinan tiap bulannya KRJB akan menerima keanggotaan baru. Berikut harapan-harapan kelompok dengan bergabung bersama KRJB;

Dari pengalaman kelompok koperasi WiKa (Wira Usaha Katemas) Kudu, saat ini jumlah anggotanya 260 orang. Struktur kepengurusan dibantu oleh 3 divisi, antara lain divisi Simpan Pinjam, divisi Humas, dan divisi Anyaman Pandan. Menurut M. Zainul Asfan, koordinator KSP, bahwa kalau koperasi ingin dinamis harus mempunyai keinginan untuk maju. Melalui KRJB inilah, dirinya berharap ada nilai positif untuk pengembangan kegiatan selain KSP dan kegiatan anyaman pandan. ”Perjalanan Wika hampir dua tahun, rencana SHU dan RAT ke-2 akan dilaksanakan pada bulan Maret tahun depan. Total SHU tahun lalu RP 9 juta dan anggota mendapatkan besaran SHU yang sama yakni Rp 23 ribu. Rencana tahun depan akan ada prosentase bagi anggota yang aktif, karena semakin banyak anggota melakukan transaksi maka semakin banyak pula ia akan mendapatkan SHU,” jelas Zainul.

Hampir tiap pra koperasi memiliki kendala yang sama yakni kredit macet, fenomena ini juga dialami oleh koperasi Wika. Ditambah lagi minimnya modal, hingga untuk memenuhi kebutuhan anggota masih kurang. Meski demikian Wika tetap bertahan dengan segala bentuk dan kondisinya. Sayangnya pemerintah selalu tidak adil kepada masyarakat kecil, terbukti tak ada sepersenpun uang yang masuk pada kelompok ini. ”Saya sangat kecewa terhadap birokrasi  pemerintah, karena disamping tidak pernah memberikan suntikan modal, ternyata pemerintah juga sering ingkar janji. Beberapa bulan lalu, kami mengajukan proposal pelatihan anyaman guna meningkatkan skill dan SDM para anggota. Awalnya dijanjikan 40 orang yang akan dilatih di Lamongan, namun setelah saya datangi ke kantor janji tersebut menurun menjadi 10 orang. Konfirmasi minggu berikutnya, malah kuota turun lagi menjadi 7 orang. Alangkah terkejutnya kami hingga kami mengirimkan Aris untuk tanya langsung, lagi-lagi jumlah diturunkan menjadi 2 orang. Setelah ditunggu lama, ternyata ada kabar buruk bahwa yang dilatih adalah dari perangkat desa dan bukan dari kelompok,” terang laki laki berumur 36 ini kecewa.

Harapan bergabung dengan KRJB, salah satunya ingin meningkatkan kualitas masing-masing SDM pengurus dan anggota. Selain itu ada keinginan juga menambah kegiatan yang pas bagi anggota, dimana kalau kelompok hanya disuguhi kegiatan simpan pinjam saja maka lambat laun mereka juga akan bosan dengan rutinitas tersebut. ”Saat ini kegiatan tambahan yang telah dilakukan adalah ketrampilan anyaman pandan dan sablon,” kata Zainul koordinator KSP.

Sementara itu, ada beberapa kelompok lainnya yang sedang berproses untuk membuat pra koperasi diantaranya ada kelompok Suara Budi Luhur (SBL) Ngepeh Rejoagung Ngoro dan kelompok Dusun Pule Tanjung Gunung Peterongan. Sebagian besar anggotanya adalah kelompok tani yang tergabung dalam anggota takmir masjid. Sedangkan untuk kelompok ibu-ibu saat ini masih dalam tahap perencanaan. Menurut Sulthon yang beberapa waktu lalu bercerita tentang pengalamannya mengelola kas masjid untuk di kembangkan melalui kebutuhan para petani. “Takmir hanya memakai sistem kepercayaan, hingga mempermudah akses para petani untuk mendapatkan pinjaman yang digunakan untuk membeli pupuk. Namun pada putaran pinjaman untuk pupuk akhir-akhir ini juga mengalami kendala, setelah adanya perubahan kebijakan bahwa pupuk yang bersubsidi harus dibeli langsung oleh para petani dengan menggunakan KTP (kartu tanda penduduk),” katanya.

Tahun 2007 lalu, petani bisa meminjam secara langsung kepada takmir berupa pupuk. Mau tidak mau pengurus takmir juga terkena dampak dari kebijakan tersebut karena harus meminjamkan petani berupa uang sesuai harga pupuk per sak. Sedangkan kebutuhan masing-masing petani antara satu dengan lainnya tidak sama. ”Disinilah problemnya, pengurus harus ekstra hati-hati memberi pinjaman. Karena ada indikasi uang tersebut bisa tidak digunakan untuk membeli pupuk, namun kebutuhan rumah tangga. Ini berakibat fatal pada pengembalian yang sulit. Namun dalam pemikiran kami, selama akad masih sesuai dan untuk infaq sesuai dengan kesepakatan, kami masih percaya,“ tutur Sayuti bendahara masjid Pule.

Membangun Gerakan Sosial

Tak semua kelompok yang tergabung dalam KRJB adalah kelompok yang mempunyai wadah perkoperasian. Beberapa diantara mereka ada yang bergerak murni disektor sosial masyarakat melalui wadah pendidikan dan juga ketrampilan sebanyak 20 kelompok. Seperti halnya Optik Klagen Kepuh Kembeng Peterongan, kelompok Sanan Mojoagung, kec. Diwek; Keramat Mojosongo, Fata Tanjung Anom Bulurejo, Kec. Jogoroto; FKPM Mayangan, Kec. Mojowarno; Mawarno, Kompak Bajang Karanglo, Kec Megaluh; Remas At-Taqwa Ds. Sumber Agung, Kec. Jombang;  FKPKLJ, Ogip Banjardowo, Kaula Muda Kalangsemanding, Kec. Bareng; Al-Amin Ngampungan, Kelompok Pendowo Sudrun Kedunggalih Bareng, Ngoro; Rakom SBL Ngepeh, Manis Madu Godong, Forum Warga Watulintang, Forum Warga Sukotirto, Forum Warga Wedani. Kudu; Rakom Jawara,  

Sebagian besar kelompok ini memang bergerak pada sosial kemasyarakatan. Artinya selalu merespon segala bentuk persoalan yang ada di sekitar masyarakat. Disamping itu secara organisatoris, masing-masing mempunyai model kerangka kegiatan dalam rangka membangun organisasi yang kuat. Seperti halnya Forum Komunikasi Pemuda dan Masyarakat (FKPM) Mayangan kecamatan Jogoroto. Menurut Miftahus Saidin, sejak tanggal 15 April 2007 sebanyak 17 orang menyatakan diri berhimpun untuk belajar bersama-sama, dan mengembangkan solidaritas bersama. ”FKPM dalam kurun waktu satu tahun telah berproses bersama dalam membangun organisasi, hingga kepengurusan dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. Penguatan internal ini sangat penting, terlebih dalam mewujudkan gerakan sosial FKM butuh kekompakan. Dari sinilah kelompok akan mampu merebut keadilan dari kebijakan pemerintah diberbagai bidang antara lain; pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi dan koperasi, pertanian, peternakan, kerukunan umat beragama, fasilitas-fasilitas publik lainnya yang tidak memihak rakyat, terang Miftah semangat.

Bersamaan dengan itu, beberapa program yang telah direncanakan adalah menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rutin bulanan yang dikemas dalam forum santai, yakni program divisi komunikasi dengan model dialog cangkru'an. Menghadirkan nara sumber dan pihak-pihak terkait yang berkompeten. ”Dalam bidang pengembangan ekonomi kerakyatan, kami mendirikan koperasi dengan harapan mampu mengangkat kesejahteraan anggota FKPM. Pada divisi pendidikan, kami membuat pendidikan alternatif dengan target minimal anggota mampu memahami dan membantu penyelenggaraan bantuan belajar untuk anak usia sekolah,” terangnya.

Program FKPM tersebut, hampir sama dengan kelompok Mawarno Mojowarno yang juga mempunyai gagasan untuk mengembangkan pendidikan alternatif. Pernah mengeksplorasi persoalan pendidikan bulan lalu, Didik, mengemukaan bahwa dirinya telah membuat konsep pendidikan permainan untuk anak di Dusun Belak Kunci Mojowarno. ”Tujuan kita mengagas pendidikan alternatif, minimal kita mampu menetralisir kondisi yang saat ini dimulai dari lingkungan sekitar kita. Dengan mengusung  konsep dan metodologi yang berbeda dengan pendidikan formal. Artinya kemasan konsep yang akan kita buat lebih kongkrit dan selalu bersinggungan dengan realita,” jelasnya.

Sementara itu pada kelompok Wahana Kreasi Kemasyarakatan (WKK) Ngrogol Diwek, disamping telah memiliki bentuk usaha perkoperasian, mereka juga mempunyai agenda khusus dibidang pendidikan dengan melaksanakan tryout setiap tahunnya. Tujuan kegiatan tersebut sebagai bentuk peran keikutsertaan organisasi dalam menciptakan masyarakat yang cerdas khususnya para pelajar. Dengan pelajar yang relatif lebih murah dibanding dengan tryout yang diselenggarakan oleh pihak sekolah atau lembaga lain sehingga bisa menunjang atau sedikit meringankan beban mental para pelajar yang dinilai kurang mampu dalam hal pembiayaan.

Menurut Nasikin, sekretaris kelompok WKK, maksud dan tujuan terbentuknya WKK sejak 8 November 2003 lalu dintaranya ingin menciptakan komunikasi dialogis antara pemuda, masyarakat dan pemerintahan desa. Agar pemuda juga turut berperan aktif dalam perkembangan pembangunan yang ada di desa. ”Untuk menciptakan masyarakat yang peka terhadap persoalan sosial di sekitar lingkungan tepat tinggal, maka perlu dibentuk sebuah wadah organisasi. Agar terbangun pola hubungan yang harmonis tanpa diskriminatif antara masyarakat dan pemerintahan desa. Disamping itu untuk mengasah daya kritis, kreatif, serta belajar bersama di setiap persoalan,” katanya.

Kendala Utama Adalah Persoalan Ekonomi

Beberapa kelompok KRJB tersebar di wilayah pedesaan sebagian besar memiliki potensi alam yang bisa dimanfaatkan. Seperti halnya kelompok OGIP (Organisasi Gempolpait Ingin Perubahan) Desa Banjardowo, telah merintis organisasi di tingkat dusun sejak tahun 2006. Pada tahun 2007 mereka mendeklarasikan diri untuk memantapkan semangat untuk belajar bersama. Secara geografis Dusun Gempolpait mempunyai lingkungan pedesaan yang memiliki potensi untuk dikembangkan ke arah pertanian dan peternakan. Namun sebagian besar generasi muda belum mempunyai minat untuk turun langsung ke ladang, dampaknya banyak pemuda yang kebingungan mencari sumber penghasilan.

”Bagi masyarakat awam, persoalan pengangguran, tidak punya pekerjaan, bahkan tidak bisa makan itu merupakan persoalan individu. Padahal seharusnya ini juga menjadi tanggungjawab pemerintah desa, dan semua orang yang tinggal di Desa Banjardowo. Pasalnya tidak sedikit orang yang kaya namun menutup mata terhadap persoalan tersebut. 

Saat ini OGIP hanya mampu bergerak dibidang sosial, sedangkan untuk perekonomian masih belum terlaksana,” terang Hermin Maslamah.

Dari pengalaman lalu, beberapa kegiatan pengembangan usaha bersama telah dilakukan seperti ternak belut. Namun proses belajar tersebut harus kandas ditengah jalan, akibat surutnya semangat, bibit yang kurang unggul dan kesadaran untuk berbagi tugas tidak maksimal. ”Senenge arek nom-noman kuwi biasane mong sak grudukan, (semangatnya pemuda itu biasanya cuma sebentar) kadang saya juga sempat berfikir unen-unen jawa ini benar adanya. Terkadang beberapa kegiatan yang telah disepakati, seperti bersih dusun hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan karena yang mau melaksanakannya tidak ada 10 anak, sedangkan lainnya hilang entah kemana,” tambahnya.

Meski kondisi demikian, ketika ada koordinasi bulanan sebagian besar masih tetap hadir. Dengan bergabungnya kelompok OGIP dalam keanggotaan KRJB maka diharapkan mampu memberikan inspirasi tambahan kegiatan agar OGIP semakin dinamis.

Fenomena pengangguran memang sering dihadapi oleh sebagian besar organisasi kepemudaan. Hal ini juga dialami oleh Forum Arek Tanjung Anom (FATA) Desa Bulurejo Diwek, sebagian besar pemuda juga belum mempunyai profesi tetap. Ini merupakan tantangan yang harus dijawab dan diselesaikan. Wajar jika kemudian banyak pemuda yang keluar dari wadah organisasinya akibat persoalan ekonomi yang belum kuat. ”Kerja di sawah itu musiman mbak, jadi ketika tidak pada musim tanam atau panen tentunya mereka akan nganggur lagi. Ketika tidak ada penghasilan, mereka akan memilih untuk keluar kota untuk mencari tambahan uang. Namun tidak semua anggota FATA ke luar, ada yang tetap bertahan dengan kerja serabutan ikut menjadi kuli tukang bangunan,” terang Yulian Agung.

Sementara itu, pada kelompok OPTIK (Organisasi Pemuda Klagen) dari tahun ketahun pun menghadapi problem yang sama yakni banyaknya pemuda yang memilih kerja ke luar kota. Meski sempat pada tahun 2007 ada pembaharuan kepengurusan akan tetapi tahun ini kembali mengalami kekosongan kepengurusan. Muncul ketua baru Setyo Handoko yang dulunya menjadi wakil ketua, bukan lantas problem sektor ekonomi usai. Belum ada perubahan untuk berkoordinasi antar pengurus serta anggota untuk membuat pertemuan rutin. “Saya berharap kebersamaan Optik yang dulu sempat kuat, kini harus kembali bergandengan tangan untuk menata pemuda agar mempunyai kesamaan bersama-sama untuk mengurangi pengangguran, salah satunya usaha bersama. Saat ini kegiatan yang berhasil disepakati dengan kepala dusun adalah penggalangan pembayaran rekening listrik, dari sinilah nantinya karang taruna akan memperoleh kas untuk pijakan karang taruna membuat kegiatan lain,” jelas Handoko.

Kini OPTIK membaur dengan menjadi Karangtaruna Desa Kepuh Kembeng Peterongan, dengan visi misi dan misi yang sama yakni ingin bersama-sama membangun desa. Tujuan tersebut tidak akan terwujud jika antara yang satu dengan yang lainnya tidak bisa berjalan beriringan. Mulai dari warga sampai perangkat harus saling mendukung kerja-kerja yang mulai dirintis oleh Karangtaruna Dusun Klagen yang memiliki kurang lebih 25 anggota. Kini beberapa program yang mereka rencanakan ada beberapa divisi antara lain divisi pendidikan dan keagamaan, divisi seni dan olah raga serta divisi humas. Dari program-program inilah diharapkan dapat menampung semua potensi pemuda yang ada di Dusun Klagen, agar lebih kreatif dalam mengembangkan diri. 

Sementara itu penuturan M Makmun, Sekretaris Desa Mojowarno, semasa muda ia juga mempunyai organisasi bersama pemuda lainnya di Mojowarno. Meski dirinya termasuk pendatang dari Nganjuk, tapi ia mempunyai keinginan besar untuk menyumbangkan pemikiran dan ide kreatifnya. ”Kendala awal untuk membangun organisasi pemuda adalah persoalan ekonomi, dimana ketika para pelajar ini sudah lulus dari sekolah atau kuliah pasti mempunyai pemikiran ingin mandiri. Sedangkan pemerintah desa sendiri tidak ada sumber pekerjaan yang jelas, tentunya ini menjadi kendala tersendiri dalam menjalankan organisasi,” jelas Mantan ketua karang taruna era 80-an.

Untuk itu ke depan, masih menurut Makmun, Desa Mojowarno telah mempunyai beberapa perencanaan akan membuka peluang usaha agar generasi muda Mojowarno tetap bertahan di desa sendiri dan terus berorganisasi. Namun perencanaan ini tentunya membutuhkan waktu yang lama, karena sampai saat ini belum ada pihak sponsor yang mau menjadi donatur.

Beberapa sampel kelompok tersebut, baik OGIP Banjardowo, FATA Tanjung Anom, OPTIK Kepuh Kembeng, dan kelompok Mawarno Mojowarno adalah kelompok yang sebagian besar anggotanya adalah pemuda. Mereka berharap dengan bergabungnya bersama KRJB, akan mampu memberikan pengalaman-pengalaman baru untuk menciptakan kreatifitas kemandirian dalam berorganisasi, berwirausaha serta merintis perkoperasian seperti yang telah di programkan bersama dalam RAKER di WTC Wonosalam bulan Juli yang lalu. (Diana Kholidah, Tim)

Leave a Reply






2 × = eighteen