KRJB Membangun 29 Kelompok Usaha
Posted in June 12th, 2004 by admin | Filed under Berita Kita | Comments (0)Pertemuan rutin Konsorsium Rakyat Jombang Berdaulat (KRJB) di kelompok WIKA Katemas pada Minggu 17 Februari 2008, bukan pertemuan biasa. Pertemuan ini adalah pertemuan penting untuk mewujudkan impian besar anggota KRJB tentang kedaulatan ekonomi di desa-desa mereka. Iya, memang hanya melalui koperasi kecil yang jumlahnya puluhan orang saja, namun jika koperasi telah menjadi gerakan maka impian itu menjadi nyata.
KRJB sendiri merupakan gabungan organisasi rakyat dari komunitas-komunitas tingkat dusun maupun desa di Kabupaten Jombang dengan beragam kegiatan. Saat ini ada sekitar 33 kelompok, 29 kelompok merupakan kelompok usaha dan beberapa diantaranya adalah usaha koperasi.
Kelompok WIKA Desa Katemas Kecamatan Kudu Jombang, adalah salah satu anggota KRJB yang memiliki usaha simpan pinjam (koperasi). Pada pagi hari itu, di sebuah rumah berdinding kayu dengan lantai tanah beralas tikar, berlangsung pertemuan rutin KRJB. Acara dihadiri sekitar 50 orang dari perwakilan kelompok dan dua orang tamu dari Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Jombang. Agendanya membicarakan bagaimana membangun koperasi di kelompok-kelompok kecil di desa.
Di KRJB, kelompok-kelompok yang khusus melakukan kegiatan simpan-pinjam (pra- koperasi) antara lain; Koperasi Mampu Berkarya Sendiri (Mamkari) dan Koperasi Al-Barokah di Dusun Ngrandu Desa Perak, Koperasi Cakra RT 18 Desa Sengon, Kelompok Arisan dan Simpan Pinjam Perempuan Desa Sambong Duren (yang dalam waktu dekat akan membentuk koperasi), Koperasi Cipta Mulya PKL Peterongan, Koperasi PKL Alun-alun, Koperasi PKL Simpang Tiga, Koperasi Serba Usaha Dusun Kedunggalih Bareng, Koperasi anggota WIKA Desa Katemas, Koperasi Amanah FKPM Desa Mayangan Jogoroto, Koperasi Mugi Guno WKK Grogol Diwek, Koperasi PWC Cukir Diwek, Koperasi Pemulung Denanyar, dan lain-lain.
Selain itu ada beberapa kelompok pengembangan usaha ekonomi bagi pemuda seperti unit usaha ekonomi Dekrit Badang Ngoro, KRAMAT Mojosongo Diwek, Karangtaruna Desa Kepuhkembeng Peterongan, KOMPAK Desa Sumberagung Megaluh, Karangtaruna Gempolpait Banjardowo, dan usaha ekonomi Forum Bersama Masyarakat Jogoroto (FBMJ), serta masih banyak lagi.
Mengapa anggota KRJB memilih berkoperasi sebagai salah satu gerakan ekonomi? Karena kegiatan koperasi yang dilakukan kelompok-kelompok yang tergabung dalam aliansi KRJB merupakan upaya membangun ekonomi rakyat agar mampu meneguhkan kembali kedaulatan dan kesejahteraan yang selama ini tidak dimiliki. Manfaat koperasi akan dirasakan oleh anggota dan masyarakat di sekitar desa. Kita tidak lagi hutang ke rentenir, karena bisa meminjam di koperasi, kita tidak lagi belanja di toko-toko yang tidak dikenal, tetapi bisa belanja di koperasi sendiri yang kita bangun bersama kelompok.
Membangun dan Memperkuat Koperasi di Desa
Diskusi anggota KRJB di WIKA Katemas, membicarakan tentang bagaimana cara mengembangkan kelompok koperasi yang sudah ada. Bagi yang belum berkoperasi akan belajar bagaimana memulai usaha tersebut. “Hari ini kita anggota KRJB secara khusus akan membicarakan tentang apa itu koperasi, kemudian bagaimana mengembangkannya, dan apa saja pengalaman-pengalaman atau kendala dan hambatan yang dihadapi oleh kelompok koperasi di KRJB. Kebetulan hari ini kita kedatangan tamu dari Dinas Koperasi Jombang, kita manfaatkan momentum ini untuk mendapatkan ilmu dan pembinaan-pembinaan ke depan. Mari kita bersama-sama memasyarakatkan koperasi dan mengkoperasikan masyarakat . Mari membangun dan memperkuat koperasi di desa kita,” kata Edy Musyadad, Ketua Koperasi Seru Mandiri yang menjadi moderator diskusi hari itu.
Acara dilanjutkan dengan perkenalan kelompok-kelompok koperasi di KRJB kepada dua orang staf Dinas Koperasi yang hadir. “Dari beberapa koperasi yang ada, kita berkomitmen untuk membangun usaha ini bersama-sama. Bagi kelompok yang belum melakukan usaha koperasi, kita mendorong untuk kelompok tersebut membangun koperasi, dan secara rutin kita akan bertemu untuk membincangkan persoalan yang kita hadapi,” ujar Edy.
Kelompok koperasi WIKA Desa Katemas diwakili anggotanya, Zainul Asfan, menceritakan kondisi koperasinya. “Pada awalnya kelompok kami adalah sebuah perkumpulan yang bertujuan mengembangkan kerajinan pandan. Kelompok ini terbentuk hampir dua tahun, namun karena pandan jeblok muncul gagasan membentuk koperasi sejak delapan bulan lalu. Pertama kalinya ada 20 orang yang terlibat dengan simpanan pokok sebesar Rp 10.000, simpanan wajib Rp 1000, dan bunga pinjaman sebesar 2%. Dalam waktu dekat anggota bertambah menjadi 100 orang. Dua bulan kemudian 200 orang, dan bulan kedelapan mencapai 250 orang anggota. Kami hanya mengandalkan simpanan pokok untuk pengelolaan apapun. Pada bulan Mei 2008 nanti rencananya akan dilakukan rapat anggota tahunan (RAT) dan pembagian sisa hasil usaha (SHU). Kita membutuhkan metode sekaligus mekanisme yang tepat untuk pengelolaan koperasi berikutnya,” kata
Rencananya kelompok WIKA akan melakukan terobosan baru. Bukan hanya usaha simpan pinjam tetapi juga pemasaran produk pandan sampai ke luar negeri. Hanya saja masih terkendala untuk memperbaiki kualitas produksi mereka. “Pada bulan Mei 2007 kemarin, ada pesanan dari Sidoarjo untuk ekspor ke Taiwan, tetapi beberapa kali produksi kita ditolak karena mutunya yang kurang bagus. Kami mohon ada bimbingan dari dinas untuk memberikan pelatihan agar kualitas produksi kami lebih bagus dan bisa diterima pasar luar,” ujar Zainul.
Cerita Koperasi Mugi Guno Desa Grogol, disampaikan oleh Nasikin, salah seorang pengurus koperasi tersebut. “Koperasi kami ada berawal dari gagasan teman-teman untuk mengembangkan ekonomi masyarakat yang resah oleh bank clurut (renternir). Ide ini direspon oleh organisasi muda WKK dengan anggota pertama sebanyak 10 orang. Perkembangan selanjutnya anggota terus bertambah hingga sudah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) dua kali. Pembagian SHU sudah terlaksana 2 kali dan rencananya dalam waktu dekat akan dilakukan yang ketiga. Anggota yang ada sekarang sebanyak 47 orang aktif maupun pasif. Dan kendala yang kami hadapi adalah pengurus masih bingung dalam membagi SHU,” ungkapnya.
Irwantoro, dari komunitas Kompak Desa Sumberagung Megaluh, menceritakan kondisi kelompoknya yang belum ada koperasi. Namun beberapa kegiatan ke arah usaha itu sudah ada seperti arisan Rp 6.000-an yang dibelikan sembako dan masih berlanjut sampai sekarang.
Kelompok usaha di Komunitas Perempuan Jawara yang disingkat KPJR Desa Randuwatang Kecamatan Kudu, diwakili oleh Titik, menyatakan kelompoknya sangat ingin sekali mendirikan koperasi. “Koperasi kami berdiri masih semingguan, tapi semangat untuk membangun koperasi bertambah apalagi setelah melakukan pelatihan,” kata Titik.
Dari Tergantung Menjadi Mandiri
Keinginan mendirikan koperasi juga disampaikan oleh Atin, dari Kelompok Arisan dan Simpan Pinjam Perempuan Desa Sambong Duren. “Kebetulan daerah saya didominasi oleh pedagang, baru saja kami mendirikan kelompok arisan ibu-ibu dalam satu RT pada tanggal 5 Januari 2008 kemarin, dan pada tanggal 5 Februari, kami membuka program simpan pinjam. Nah mungkin saat ini saya butuh tukar pengalaman dengan kelompok lain terutama bagi kelompok koperasi baru,” ujar Atin berharap.
Yang perlu dipahami bahwa, dalam membangun kelompok tidak perlu anggota yang banyak ataupun dana yang besar. “Koperasi Cakra tidak sebesar yang anda bayangkan. Lingkupnya tidak desa tetapi hanya satu RT di lingkungan saya. Di RT 18 Desa Sengon, saya memulai dari yang kecil di masyarakat. Setahun sebelumnya saya sosialisasi tentang koperasi dan baru terbentuk pada tahun 2006. Persoalan yang paling utama di lingkungan saya adalah adanya renternir, yang rata-rata menentukan bunga pinjaman hingga 40 persen. Nah, kemudian ada 8 orang sepakat untuk mendirikan koperasi. Awalnya memang pesimis, namun kemudian pada RAT I tahun 2007 anggotanya menjadi 40 orang, Smpo-ya 20.000 dan tiap tahun akan ditingkatkan. Alhamdulillah RAT tahun ini asetnya sudah sebesar 10 juta setelah dibagi SHU. Semua anggota sudah merasakan manfaatnya, karena koperasi diciptakan untuk kemanfaatan anggota. Namun kalau boleh saya sarankan, hendaknya pinjam ke koperasi untuk hal-hal yang produktif supaya uang bisa dikembangkan, jangan yang konsumtif,” tutur Muslimin Abdilla, Ketua Koperasi Cakra Desa Sengon.
Yogi Wasisno dan Julianto, Seksi Perkoperasian dan UKM, Bidang Koperasi Disperindagkop Kabupaten Jombang, memberikan gambaran tentang lembaga keuangan mikro, yaitu lembaga yang meminjamkan dana ke anggotanya saja. “Lembaga ini ada dua jenis yakni Bank dan Non Bank. Jenis bank seperti BPR dan BPRS yang pegawainya dari Bank Indonesia. Sedangkan lembaga mikro non bank sesuai UU No. 25 tahun 1992, adalah koperasi,” jelas Yogi Wasisno.
Menurut penjelasan Yogi, dasar dari lembaga ekonomi koperasi ada empat yakni: ada kepentingan yang sama, ada usaha yang layak misalnya anyaman pandan, ada modal yang cukup, dan ada 20 orang yang terkumpul. “Tapi pada dasarnya koperasi didirikan atas dasar kebersamaan dan kesepakatan yang demokratis, kekeluargaan, dan gotong royong yang bertujuan mensejahterakan anggota,” ujarnya.
“Saya melihat kelompok-kelompok usaha di KRJB sudah melakukan kegiatan berkoperasi, hanya saja secara yuridis belum terdaftar di dinas. Menurut saya memang tidak perlu didaftarkan dulu karena konsekwensinya juga besar. Lebih baik sekarang ini kita besarkan dulu koperasinya, menata secara internal dulu, baru nanti secara formal diurus kemudian. Seperti bagaimana memaksimalkan simpanan pokok, simpanan wajib dan lain-lain,” kata Julianto.
“Memang kemudian ketika belum resmi terdaftar, koperasi yang bersangkutan belum bisa disebut koperasi. Masih pra koperasi dan belum mempunyai hak mendapatkan dana pinjaman dari pemerintah. Namun jangan kecil hati dulu, karena saya lihat di KRJB sudah ada koperasi yang legal yaitu Koperasi Mandiri. Kalau anggota yang lain ingin mendapatkan dana lunak dari pemerintah bisa melalui Koperasi Mandiri yang akan mengajukannya. Yang terpenting sekarang besarkan dulu kelompoknya, kuatkan anggotanya dengan kegiatan yang memberi manfaat. Nanti setelah melakukan RAT minimal dua kali, kelompok bisa mengajukan penambahan dana dari APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah), tapi tentunya dengan jaminan,” tambahnya.
Harapannya dengan berkoperasi semua anggota KRJB memiliki semangat yang berubah. Dari tergantung menjadi mandiri. Dari kesulitan mendapatkan pinjman menjadi mudah. Dan dari sendiri-sendiri menjadi bersama-sama. Kita secara rutin akan bertemu dalam forum koperasi. Dari desa kita mulai menggerakkan sumberdaya untuk kebutuhan anggota dan kemajuan desa.
Saat ini dalam KRJB telah membuat jaringan antar koperasi. Kita saling berhubungan baik di masing-masing kabupaten maupun antar kabupaten. Maka, koperasi yang berdiri di desa-desa ini secara tegas menunjukkan bahwa koperasi-koperasi itu adalah soko guru gerakan membangun desa.



