Jagongan: Menjadi Kunci Pengorganisasian
Posted in January 2nd, 2009 by admin | Filed under Berita Kita | Comments (0)
Abdul Muhaimin, penggerak di Desa Badang Ngoro Jombang dan desa-desa lain di sekitar tempat tinggalnya, mengajak masyarakat untuk bersama-sama dengan cara berkelompok menyelesaikan persoalan yang dirasakan. Beberapa kelompok tersebut diantaranya adalah; Paguyuban Perempuan Anggrek Watulintang Desa Badang, Kelompok Petani Bunga Sukotirto Badang, BMW Wedani Badang, Kelompok Pemuda IKAPASA Sanan Mojoagung, Forum Warga Pengkol Kandangan Kediri, Paguyuban Budi Luhur Ngepeh Ngoro, dan Radio Komunitas “Suara Budi Luhur” Ngepeh. Dimana semua kelompok ini kini telah bergabung menjadi anggota organisasi KRJB.
Desa Badang sendiri merupakan bagian dari wilayah kecamatan Ngoro, sekitar 18 km arah selatan dari kota Jombang Jawa Timur. Terdapat 6 dusun di desa ini yakni; Dusun Badang, Dusun Watulintang, Dusun Sukotirto, Dusun Wonoasri, Dusun Wates dan Dusun Wedani. Abdul Muhaimin bersama pemuda-pemuda lain di Dusun Badang mendirikan kelompok pemuda yang bernama Dekrit '17.
Salah satu kegiatan yang paling menonjol adalah Jagongan. Motivasi awal berdirinya jagongan karena sebagian besar masyarakat Desa Badang, senang ngobrol dan cangkru'an sehingga menjadi sumber inspirasi pemuda Depot Kreatifitas (Dekrit) '17 menjadi kegiatan. Kegiatan rutinan sebulan sekali itu kini menjadi tempat untuk bertemu, berdiskusi antar warga sampai mendorong lahirnya sebuah kebijakan di tingkat dusun atau desa.
Sejarah perjuangan arek-arek Dekrit '17 dalam merealisasikan media jagongan cukup panjang, yakni selama 4 tahun. Tentu saja tidak sedikit hambatan dari tokoh masyarakat dan aparat Desa Badang. Awalnya pembicaraan dalam jagongan mengarah pada kerja-kerja yang dibangun Kades, hingga ditengah perjalanan wadah tersebut terhambat karena dianggap ngerusuhi. Tapi para pemuda terus melaksanakan acara tersebut meski tidak mendapat restu mereka tetap mengadakannya secara bergantian antar dusun.
Sisi positif yang diperoleh ketika berhasil menemukan titik temu dalam mengurai persoalan desa terkait dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, maka kelompok Dekrit'17 semakin semangat dan tidak takut intimidasi dari aparat. Akhirnya jagongan berfungsi pertama; menyebarluaskan dan menampung wacana serta solusi positif di masyarakat terkait dengan persoalan yang dihadapi. Kedua, menciptakan komunikasi dialogis antar masyarakat dan membangun silaturahmi di masyarakat dengan instansi terkait.
Jagongan secara efektif juga digunakan untuk membicarakan dan mengupas semua persoalan hingga menemukan solusi. Adapun tema/topik persoalan selalu berdasar pada persoalan yang dialami masyarakat. Jadi penentuan tema berasal dari usulan masyarakat, barulah ketika tidak ada usulan anggota Dekrit menawarkan ide.
Di tahun 2006, membicarakan upaya menanggulangi wabah Demam Berdarah, dengan penguraian akar persoalan, penyebab dan solusi yang praktis yang harus dilakukan warga. Akhirnya lahir kebijakan melalui upaya pembersihan jentik dan fogging. Tahun 2007 di Dusun Watulintang, ada persoalan gedung SD yang mau ambruk, dengan menghadirkan anggota DPRD Jombang Komisi A, pihak kecamatan, dan Pemdes, maka gedung sekolah tersebut cepat diperbaiki. Suara masyarakat yang awalnya hanya bisa dilontarkan dari warung-ke warung kini langsung didengar oleh pihak DPRD yakni komisi A.
Diawal tahun 2008, Dekrit melakukan kegiatan bola volly bersama yang diikuti oleh 3 kabupaten yakni Jombang, Kediri dan Nganjuk. Tujuan dari kegiatan tersebut dapat menjalin persatuan antar kelompok pemuda, untuk mengukur kemampuan dan memantau perkembangan para klub yang saat ini sedang mengejar prestasi, serta sebagai media eksplorasi untuk para pemain bola volly melalui pertandingan atau kompetisi yang dirasa sangat kurang. Tapi tujuan yang paling pokok, bahwa Dekrit mulai mengajak kelompok pemuda lain untuk berkelompok.
Sisi kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah membangun kesejahteraan para anggota Dekrit melalui kegiatan ekonomi berupa simpan pinjam. Kegiatan ini merupakan hasil musyawarah bersama dan modal pertama didapat dari urunan anggota (swadaya). Selain itu, kegiatan yang mengarah pada peningkatan SDM juga terus dilakukan, seperti mengikuti kegiatan yang diadakan KRJB, mengadakan pelatihan-pembuatan pupuk organik dan lain sebagainya.
Dari sini bisa dilihat, bahwa Dekrit adalah salah satu kelompok masyarakat yang berusaha memberdayakan diri dan komunitasnya dengan hal-hal yang dilakukan secara bersama dan berswadaya. Yang terpenting lagi adalah intensitas kelompok-kelompok kecil di tengah masyarakat secara langsung maupun tidak, dapat menjadi alat kontrol terhadap kehidupan bermasyarakat. Juga menjadi alat kontrol atas sistem yang berjalan dalam pemerintahan desa setempat. Mereka juga secara langsung berpartisipasi dalam mewujudkan kesejahteraan bersama melalui program-program pemerintah.



