Tentang Kami | Home |
| News |
| Links |
| FAQ |
| Contact Us |
| SIPIL Magazine |
| Majalah Soerat |
| Webmail |
| Today | 118 |
| Week | 118 |
| Month | 970 |
| Pengunjung | 82417 |
| (C) Fliesenstadt | |
| Catatan Satu Tahun Forum Sumber Pancur Bangkit |
|
|
|
| Written by Soerat | |
| Monday, 08 September 2008 | |
|
(Harlah Kesatu FSPB) Seperti kebanyakan organisasi pemuda, Forum Sumber Pancur Bangkit (FSPB) yang ada di Dusun Sumberpancur Desa Kepung, mampu menjadi penjembatan komunikasi bagi pemuda dan orang tua. Wujud hubungan ini dilakukan dengan keterlibatan FSPB di kegiatan sosial keagamaan, seperti kerja bakti rutin, pengajian, dan beberapa forum diskusi baik di tingkat dusun maupun desa. Di edisi 112 bulan September 2007, majalah SIPIL telah memberitakan moment bersejarah, Deklarasi Forum Sumber Pancur Bangkit (FSPB), yang dilaksanakan pada malam, 12 Agustus 2007. Pada waktu itu, segenap pemuda Sumber Pancur berikrar disaksikan hampir seluruh warga dan aparat desa serta dua orang wakil pejabat pemerintah Kabupaten Kediri. ”Masyarakat tidak perlu risau dan khawatir dengan adanya organisasi ini. Forum Sumber Pancur Bangkit (FSPB) yang baru saja dideklarasikan adalah sebuah organisasi pemuda tingkat dusun yang lahir karena keinginan luhur dari pemuda untuk memajukan desanya. Tujuannya sangat mulia yaitu mensejahterakan masyarakat. Untuk itu, semua harus mendukung. Saya harap para perangkat desa dan juga orang tua harus memberikan support,” kata Rahmat Mahmudi, Kepala Bidang Pengkajian Permasalahan Kemasyarakatan (Bakesbanglinmas) Kabupaten Kediri, kala itu. Kini, genap satu tahun usia FSPB. Sehari setelah peringatan hari kemerdekaan RI ke 63, tanggal 18 Agustus 2008, kembali para pemuda FSPB menampakkan kreatifitasnya. Mereka mengadakan acara peringatan HUT RI ke 63, HUT FSPB ke 1, dan Isro Mi'roj 16 Syaban 1429 H. Sebagai catatan sejarah bahwa perjalanan FSPB selama satu tahun; membangun kesadaran tentang tanggung jawab lingkungan secara bersama, menjalin hubungan dengan dusun lain, mencari usaha alternatif, mengembangkan ternak sapi, dan pembuatan batu bata secara berkelompok, serta beberapa upaya solusi usaha mandiri lainnya yang terwadahi dalam forum tersebut . Beberapa hal yang telah dilakukan FSPB adalah melakukan upaya perubahan melalui forum-forum kecil untuk mendiskusikan peran pemuda untuk membangun dusun. Maka, FSPB memotori beberapa kegiatan dusun seperti pengajian, peringatan hari-hari besar dan nasional, pelatihan-pelatihan yang berbasis kebutuhan kelompok, serta membangun kebersamaan dengan masyarakat, baik tingkat perangkat desa maupun organisasi masyarakat lokal yang ada. Dalam satu tahun ini dampak yang bisa dirasakan adalah terbangunnya hubungan politik yang seimbang antara pemerintahan desa dan warganya. Keterbukaan kekuasaan telah bisa dirasakan oleh komunitas, soal layanan publik, dan fasilitas untuk pemuda serta masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap kelompok muda juga mulai terbangun, terbukti beberapa persoalan lokal sering dipercayakan kepada pemuda untuk membantu penyelesaiannya. Salah satu buktinya adalah beberapa waktu lalu ada tawaran menarik dari salah satu warga untuk membuat rokok murah dengan merek FSPB. Dan hasil dari penjualan rokok tersebut akan diberikan untuk organisasi serta anggota. Tetapi dengan beberapa pertimbangan tawaran tersebut masih belum diterima dengan alasan belum ada kesiapan anggota kelompok karena dirasa masih belum berpengalaman. Dalam kontek pengorganisasian kelompok ini menjadi spirit bagi kelompok lain untuk melakukan upaya-upaya dinamisasi di wilayahnya masing-masing. Bagaimana melalui forum mampu menjadi alat memecahkan persoalan, meningkatkan kreasi dan kemampuan anggota. Seperti bagaimana muncul gagasan dari kelompok tani yang ingin membangun wadah usaha di sektor pertanian melalui organisasi, dan beberapa hal baru yang terinspirasi oleh kelompok FSPB . Satu kesan sederhana dari Harlah kesatu FSPB adalah “Terbangunnya kepercayaan publik atas harapan baru akan masa depan sebuah dusun”. Dari proses terselenggaranya peringatan tanpa persiapan, tetapi atas dasar semangat kebersamaan dan pengabdian akan kampung halaman, kegiatan tersebut terselenggara secara swadaya. Dukungan penuh elemen masyarakat (kelompok TPQ, muslimat, fatayat dan warga secara umum) dengan bergotong-royong dalam kegiatan kreatif berupa perlombaan (mewarnai, tartil Quran, balap air, bola terong, game berhitung dan lain-lain ). Juga pentas-pentas seni dan kreasi dengan hadiah ala kadarnya. “Rapatkan Barisan Para Pemuda Untuk Perubahan“, demikian cuplikan pekik di malam peringatan tersebut. Selanjutnya pada tengah malam setelah kegiatan usai, pengurus FSPB dan anggota melakukan renungan dan refleksi atas perjalanan kelompok dalam melakukan sebuah pengabdian selama satu tahun. Selanjutnya bagaimana kedepan untuk menentukan sikap dan langkah dalam upaya memperjuangkan desa dan tempat kelahiran. (Azis Alkaf) |
|
| Last Updated ( Monday, 08 September 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|

|
Neoliberalisme dan Penyebaran HIV/AIDS Selama ini narasi utama dari epidemik HIV/AIDS selalu mengkambing hitamkan institusi pelacuran, pengguna napza, kaum homosexual, dan analisa rasis yang mengkambinghitamkan kebiasaan sexual kulit berwarna yang tidak sehat. Dengan pendekatan seperti ini maka telah mengabaikan fakta bahwa penyebaran HIV/ AIDS yang terjadi sekarang ini juga terkait dengan penerapan sistem ekonomi neoliberalisme. Karena itu, meningkatkan pemahaman tentang dampak struktural dari kemiskinan dan pemahaman ketimpangan sosial yang berkaitan dengan HIV/ AIDS sangat penting untuk menentang cara-cara rasis, pengkambinghitaman atas korban dan menunjukan pentingnya strategi penghilangan kemiskinan secara lokal dan global sebagai senjata struktural untuk melawan penyebaran HIV/AIDS. |
|
| Read more... |
| < | February 2010 | > |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 31 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |