Cerita Posyandu Dusun Bilo
Posted in May 12th, 2008 by admin | Filed under Berita Kita | Comments (0)
Keberadaan Posyandu bagi warga Dusun Bilo Desa Parang Kecamatan Banyakan Kediri, menjadi masalah dan keluhan masyarakat terutama ibu-ibu yang sebagian besar anggota Muslimat. Sampai akhirnya mereka berinisiatif membangun sendiri Posyandu secara swadaya.
Sebelum dibangun Posyandu Teratai pada 20 Februari 2007 di Dusun Bilo, kegiatan pemeriksaan balita dan pemberian gizi yang dilakukan sebulan sekali itu letaknya cukup jauh, sekitar 2 km di Dusun Jati. Ironisnya, jarak jauh yang terpaksa ditempuh itu tidak banyak memberi manfaat. Seringkali ibu-ibu yang sudah datang itu tidak bertemu dengan bidan yang seharusnya bertugas. Menurut mereka bidan desa itu memang sering tidak ada.
Akhirnya, mereka berinisiatif berkumpul untuk membicarakan masalah tersebut. Beberapa kali di forum muslimat diadakan diskusi dan penyuluhan kesehatan reproduksi terkait kesehatan sanitasi (air). Dari forum itulah terbersit keinginan membangun Posyandu sendiri, dengan anggota sekitar 35 orang. Tempat yang dipilih letaknya di tengah-tengah dusun, di rumah mbah Wo. Upaya yang dilakukan masyarakat pada waktu itu adalah berswadaya melengkapi Posyandu yakni dengan pengadaan alat-alat kebersihan, papan, timbangan, dan lain-lain.
Karena setelah ada Posyandu sendiri ternyata bidan desa juga jarang datang, ibu-ibu melakukan arisan untuk mengikat kebersamaan sekaligus sebagai tambahan dana Posyandu. Sekarang ini Posyandu sudah berjalan dengan kegiatan yang dilakukan sebulan sekali, setiap hari Senin pada minggu pertama.
Di Desa Parang ada dua orang bidan yang menurut masyarakat hanya datang ke Puskesmas pada waktu-waktu tertentu. Dan untuk menyempatkan ke Posyandu juga jarang dilakukan. Seharusnya sehari dalam sebulan dia ada di satu Posyandu yang berarti hanya ada empat hari dalam sebulan dia bertugas memberikan pelayanan. Kenyataannya bidan itu jarang hadir, sehingga banyak keluhan dari masyarakat masalah imunisasi campak yang sering terlambat, padahal pemberian imun itu sudah ada jadwalnya. Akhirnya yang seperti itu menjadi masalah tersendiri.
Disamping itu, kader Posyandu hanya ada dua orang yakni, Bu Sri Murdani, seorang yang dianggap tokoh karena sebagai istri pegawai perhutani, dan adiknya, Bu Prapti atau biasa dipanggil Pipit. Jabatan keduanya sebagai kader memang tidak melalui pemilihan tetapi usulan dari bidan desa, Sri Maryani yang bertugas di Desa Parang dan membawahi empat dusun, termasuk Bilo. Dari pengurus dua orang itu juga menyatakan keberatan karena dana insentif yang diberikan sangat tidak sebanding dengan tanggung-jawabnya yang besar. ”Dana insentif itu hanya Rp 10 ribu per bulan. Jumlah itu memang sangat minim dan dirasa kurang, sehingga harus ada tambahan,” kata Lilik Nurhayati, penggerak di Dusun Bilo.
Untuk menyemangati upaya yang dilakukan warga Bilo, penggerak memberikan bantuan berupa timbangan gantung dari Perkumpulan Alha-raka. Dan untuk tambahan gizi anak-anak balita, penggerak juga memberi bantuan dana gizi per bulan sebesar Rp 20 ribu yang diakumulasikan selama setahun sebesar Rp 300 ribu.
Acara pemberian bantuan itu bersamaan dengan pemutaran film kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI dini. Dan secara simbolis penggerak yang diwakili Koordinator Divisi Program Penguatan dan Advokasi Alha-raka, Munasir Huda, memberikan bantuan kacang ijo dan gula. Untuk selanjutnya, akan dilakukan sosialisasi mengenai bantuan tersebut di forum muslimat yang diikuti oleh sekitar 60 persen warga Dusun Bilo. “Maksud dari sosialisasi itu supaya ada transparansi (keterbukaan) antar pengurus dan anggota Posyandu, sehingga peristiwa sekecil apapun yang terjadi bisa diketahui anggota. Tujuannya agar mereka saling percaya dalam menjalankan aktifitas dan pengelolaan. Karena angan-angan kita kedepan, Posyandu ini tidak hanya bicara soal kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga kesehatan masyarakat secara umum,” ujar Munasir Huda, menegaskan. (Lilik NH, Rini Mustofa)



